Oleh: wilarso | Agustus 17, 2008

SISTEM SILVIKULTUR –By. Dr. Sri Wilarso

SISTEM SILVIKULTUR

 

Sistem Silvikultur :

 

-          Suatu proses dimana pohon-pohon di dalam hutan ditebang, dan diganti dengan pohon baru yang akan menghasilkan bentuk tegakan baru yang berbeda dengan tegakan sebelumnya (Matthews, 1989).

 

-           Rangkaian kegiatan berencana mengenai pengelolaan hutan yang meliputi; Penebangan, Peremajaan dan Pemeliharaan tegakan hutan guna menjamin kelestarian produksi kayu atau hasil hutan lainnya (Departemen Kehutanan, 1990)

 

    Sistem Silvikultur mengandung tiga ide utama (Matthews, 1989).:

 

a.     Metoda regenerasi individu pohon dalam hutan

 

b.     Bentuk tegakan yang dihasilkan

 

c.   Susunan/komposisi tegakan di dalam hutan secara keseluruhan dengan melihat pertimbangan pada silvikulturnya, perlindungannya dan efisiensi pemanenannya.

 

 

HIRARKI SISTEM SILVIKULTUR DALAM PENGELOLAAN HUTAN LESTARI

 

SISTEM PENGELOLAAN HUTAN LESTARI

 

 

Aspek penge    Sistem Silvi    Sistem Per    Sistem   Sistem Penelitian

Lolaan Sosek     kultur           lindungan    Peren

                                          Kawasan     canaan

 

MACAM-MACAM SISTEM SILVIKULTUR :

 

1.      SISTEM TEBANG HABIS : dengan Permudaan Alam dan Buatan

2.      SISTEM SHELTERWOOD :

3.      SISTEM SELEKSI

4.      SISTEM GROUP SELEKSI KELOMPOK

5.      SISTEM ASSESORI

6.      SISTEM COPICE

A.            Coppice selection system

B.            Coppice with standards

7.      KONVERSI

8.      SISTEM AGROFORESTRY

9.      TPI

10.     TPTI

11.     TJTI

 

SISTEM SILVIKULTUR TEBANG HABIS :

 

Keuntungan :

 

  1. Mudah dan dapat melakukan inovasi Teknik Silvikultur
  2. Dapat melakukan perbaikan terhadap kesuburan tanah dengan teknik-teknik budidaya, drainase, pemupukan dan yang lainnya.
  3. Dapat melakukan perbaikan kualitas maupun kuantitas tegakan baru melalui introduksi jenis-jenis lokal maupun eksotik yang berkualitas bahkan sampai pada tingkat varitas dan kultivar
  4. Cahaya cukup berlimpah
  5. Pelaksanaan regenerasi dapat dilakukan dengan cepat
  6. Dapat dibuat hutan seumur yang menghasilkan sedikit percabangan
  7. Pemanenan mudah, ekonimis dan dapat dilakukan secara serempak sebelum penanaman dimulai

Kerugian :

 

  1. Pada daerah lereng akan memperbesar erosi
  2. Land clering dapat mempengaruhi iklim mikro, kondisi tanah dan mikroorganisme yang berguna bagi pertumbuhan seedling.
  3. Resiko hama dan penyakit yang bersarang pada tumpukan kayu bekas lebih tinggi
  4. Menghasilkan tegakan yang kurang resisten dari kerusakan hama, penyakit dan angin
  5. Dari segi estetika kurang baik, karena biasanya monokultur dan monoton.

 

SISTEM SILVIKULTUR  SHELTERWOOD :

 

Keuntungan :

a.   Dapat melindungi jenis-jenis yang sensitive thd cahaya, kekeringan dan angin dingin

b.   Tanah lebih terlindungi

c.    Lebih tahan dari hama dan penyakit

d.    Bahaya erosi lebih kecil

e.    Kesempatan memberikan ruang tumbuh pada pohon-pohon terbaik lebih besar pada waktu membuka canopi dan melakukan regenerasi

f.    Dari segi keindahan lebih baik

 

Kerugian :

 

  1. Memerlukan keahlian dan waktu yang cukup
  2. Secara ekonomis kurang efisien karena tidak dapat bekerja secara terkonsentrasi
  3. Kerusakan pada pohon-pohon yang baik dapat terjadi pada waktu melakukan penebangan.
  4. Pada beberapa kasus, tanaman muda lebih banyak memerlukan waktu untuk establish dari pada dengan sistem tebang habis
  5. Pengawasan regenerasi dan penebangan lebih sulit.

SISTEM SILVIKULTUR TPTI :

 

Serangkaian tindakan yang dilakukan secara berencana terhadap tegakan tidak seumur untuk memacu pertumbuhan tegakan sesuai dengan keadaan hutan dan tapaknya sehingga terbentuk tegakan tertata, yakni yang optimal dan lestari dan mewujudkan hutan dengan struktur dan komposisi yang dikendaki.

 

Tujuan TPTI :

 

Terbentuknya struktur dan komposisi tegakan hutan alam tak seumur yang optimal dan lestari sesuai dengan sifat-sifat biologi dan keadaan tempat tumbuh aslinya.  Hal ini ditandai oleh : wujud tegakan yang mengandung jumlah pohon, tiang dan permudaan jenis-jenis komersial dengan mutu dan produktivitas tinggi, serta jenis lainnya sehingga memenuhi tingkat keanekaragaman hayati yang diinginkan.

 

Prasyarat TPTI :

 

1.    Penataan areal unit kerja pengelolaan, sejak dari tata batas kawasan, organisasi ke dalam bagian hutan, pembagian blok-blok kerja sampai petak kerja terkecil sudah dilakukan dan memiliki batas yang jelas dan permanen.

2.  Organisasi pelaksanaan TPTI telah disusun secara istematic dan efectif

3.  Perencanaan tebangan pada blok kerja yang bersangkutan harus disusun berdasarkan informasi yang baik, yang menyangkut luasan dan fisiografi areal, PWH, peta penyebaran pohon, keberadaan pohon induk, pohon-pohon muda dan permudaan.

4.  Jaringan jalan diseluruh kawasan harus dirawat

5.  Sistem pemantauan telah disiapkan secara efektif

6.  Petak pengamatan pertumbuhan (Plot permanen) harus ditetapkan dan dibuat untuk setiap tipe hutan dengan pengamatan teratur.

 

Pengertian-Pengertian Pokon Dalam Sistem Silvikultur TPTI :

 

  1. Tegakan tinggal

Tegakan hutan yang telah ditebang pilih yang menjadi modal untuk Pengusahaan berikutnya, bersisi pohon-pohon binaan dan pohon-pohon pendamping

 

  1. Pohon Binaan

Pohon yang harus dirawat setelah tebang pilih

 

  1. Pohon Pendamping

Pohon-pohon penyusun tegakan hutan selain pohon binaan.

 

  1. Siklus tebangan

Jangka waktu antara dua tebangan berturut-turut

 

  1. Pertumbuhan tegakan

Perubahan dimensi tegakan dari waktu ke waktu

 

  1. Pembinaan Hutan

Pembinaan yang dikerjakan setelah tebang pilih meliputi : Perapihan, ITT, Pembebasan tahap I, Pengadaan bibit, Pengayaan, Pemeliharaan Tahap II dan III, Penjarangan tegakan tinggal

 

Pengertian Tambahan

 

  1. Rencana Karya Pengusahaan Hutan (RKPH)

    Rencana yang memuat pedoman dan arahan serta berisi filosofi perusahaan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dan menyajikan :

 

  1. Data prospek analisis
  2. Rencana kegiatan penataan batas dan pengukuhan
  3. Penataan hutan dan PWH
  4. Inventarisasai hutan
  5. Pemasaran hasil Hutan
  6. Perlindungan
  7. Konservasi
  8. Pembinaan masyarakat di dalam dan sekitar hutan.

 

2. Rencana Karya Lima Tahun Pengusahaan Hutan (RKLPH)

Jabaran, penyesuaian dan Pemantapan Lima tahunan dari RKPH

 

3. Rencana Karya Tahunan Pengusahaan hutan (RKTPH)

Jabaran, Penyesuaian dan operasionalisasi tahunan dari RKLPH.

 

KEGIATAN POKOK DALAM SISTEM TPTI

 

  1. Inventarisasi tegekan mengenai struktur permudaan sampai dengan pohon dan komposisi jenis beserta tapaknya.
  2. Pembatasan diameter, jumlah dan jenis pohon yang ditebang agar tegakan tinggal mempunyai produktivitas yang tinggi untuk dikembangkan menjadi tegakan yang potensial pada siklus tebang yang akan datang.
  3. Pembinaan tegakan, melindungi kawasan hutan terhadap gangguan, mempertahankan keanekaragaman hayati.

 

PENYESUAIAN TERHADAP TIPE DAN TAPAK HUTAN

 

1.     Pemilihan sistem silvikulture untuk pengusahaan hutan alam ditentukan oleh keadaan tegakan hutan dengan tapak hutan yang akan diusahakan, sedangkan tujuan pengusahaan hutan ditetapkan hanya satu yaitu hanya menghasilkan kayu pertukangan KUALITAS PRIMA.

 

2.     SISTEM SILVIKULTUR TPTI merupakan sistem yang paling sedikit mengubah ekosistem hutan di hutan produksi yang merupakan hutan alam campuran tak seumur, dibandingkan sistem silvikultur lainnya.

 

3.     Tipe hutan dengan produksi kayu rendah karena tapaknya yang secara alamiah kurus, sangat basa, atau sangat asam, seperti hutan kerangas, hutan batu kapur sebaiknya dikeluarkan dari peruntukan hutan produksi :

 

 

-          usikan tebangan akan merusak tapak sangat parah

-          secara ekonomis rendah

 

4.    Sistem TPTI memerlukan struktur tegakan pohon-pohon jenis komersial yang berkembang, artinya : jenis pohon yang akan ditebang harus memiliki jumlah permudaan segala tingkatan yang memadai.

 

5.    Penerapan sistem TPTI pada kawasanhutan kurang permudaan seperti pada hutan bekas kebakaran harus disertai program pengayaan.  Pengayaan adalah penanaman permudaan/ bibit jenis komersial setempat dengan jumlah tanaman seperlunya + 200 – 400 bibit / ha.

 

 

6.  Sistem TPTI hanya digunakan untuk mengusahakan hutan alam campuran tidak seumur (Dipterocarpaceae) untuk phutan alam seumur (Pinus, Binuang, digunakan sistem lain).

 

7.   Penggantian sisten TPTI untuk meningkatkan volume tebangan dari hutan alam tidak seumur yang mengarah kepada sistem THOA hanya diperlukan pada hutan alam campuran, dataran rendah dengan rata-rata kelerengan < 40 % dan tanah cukup subur ( liat < 10 % ).

 

 

 

About these ads

Responses

  1. great,, how about coppice sistem??
    and what is the meaning of silviculture of nature forest

  2. Saat ini berkembang berbagai wacana tentang penerapan sistem silvikultur yang sesuai dalam pengelolaan hutan indonesia, meski berbagai sistem silvikultur telah dicoba dan diterapkan di Indonesia, THPB, THPA, TPTI, TPTJ. Yang menjadi pertanyaan apakah sistem silvikultur yang sudah ada belum sesuai untuk hutan Indonesia??Sehingga para forester mengalami kebingungan dalam menentukan sistem silvikultur yang sesuai untuk mengelola hutan indonesia?? forester UGM memberikan wacana Silvikultur Intensif,meski beberapa forester lain beranggapan bahwa ini bukan merupakan sistem tetapi sebuah teknik. Sedangkan forester IPB menggulirkan wacana Multisistem silvikultur yang memungkinkan penerapan berbagai sistem silvikultur dalam satu pengelolaan hutan. Dilihat dari yang telah ada bahwa sistem silvikultur yang telah ada adalah tidak salah tetapi penerapannya belum sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam sistem tersebut, sehingga apabila nanti bergulir, multisistem silvikultur ataupun silin tetapi penerapannya hanya sebatas persyaratan tanpa komitmen untuk melaksanakan sistem tersebut sesuai dengan syarat-syarat yang digariskan, hasilnya akan sama saja.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: